<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bedah Kolorektal &#8211; Mark Wong Surgery</title>
	<atom:link href="https://www.markwongsurgery.com/id/service-category-id/colorectal-surgery-id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.markwongsurgery.com/id/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2020 06:06:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/favicon.png</url>
	<title>Bedah Kolorektal &#8211; Mark Wong Surgery</title>
	<link>https://www.markwongsurgery.com/id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kanker Kolorektal</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/our-services/colorectal-surgery/colorectal-cancer/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/colorectal-cancer/</guid>
				<description><![CDATA[Kanker kolorektal (CRC) adalah kanker paling umum di Singapura. Meskipun kanker ini juga merupakan kanker yang lebih mudah dicegah dan diobati, sebagian orang tidak melakukan langkah-langkah proaktif untuk memeriksakan kanker. Karena itu, sebagian besar CRC terdiagnosis setelah stadium akhir. Apa itu Kanker Kolorektal? Kanker kolorektal adalah pertumbuhan yang ganas (ataupun jinak) pada kolon dan/atau rektum, [&#8230;]]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p>Kanker kolorektal (CRC) adalah kanker paling umum di Singapura. Meskipun kanker ini juga merupakan kanker yang lebih mudah dicegah dan diobati, sebagian orang tidak melakukan langkah-langkah proaktif untuk memeriksakan kanker. Karena itu, sebagian besar CRC terdiagnosis setelah stadium akhir.</p>
<p><img class="aligncenter wp-image-797 size-full" src="https://markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/20190915-MarkWongSurgery1912.jpg" alt="What is Colorectal Cancer" width="1000" height="667" srcset="https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/20190915-MarkWongSurgery1912.jpg 1000w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/20190915-MarkWongSurgery1912-300x200.jpg 300w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/20190915-MarkWongSurgery1912-768x512.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<h3>Apa itu Kanker Kolorektal?</h3>
<p>Kanker kolorektal adalah pertumbuhan yang ganas (ataupun jinak) pada kolon dan/atau rektum, yaitu bagian akhir dari saluran pencernaan kita sebelum anus. Kanker kolorektal berawal dari polip, atau pertumbuhan kecil, di sepanjang dinding bagian dalam usus besar dan anus. Tidak semua polip menjadi kanker dan karena biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi kanker, jika memang ada, terdapat potensi &#8216;waktu tunggu&#8217; untuk menghentikan proses tersebut dan mencegah kanker dengan cara menghilangkan polip melalui kolonoskopi.</p>
<h3>Prevalensi Kanker Kolorektal</h3>
<p>Di seluruh dunia, terdapat 1,8 juta kasus baru yang didiagnosis pada tahun 2018.</p>
<p>Kanker kolorektal adalah kanker yang paling umum di Singapura, terbanyak pertama pada pria dan kedua pada wanita (kanker payudara). Kanker ini juga menjadi penyebab kematian paling umum ke 2 dan ke 3 akibat kanker pada pria dan wanita Singapura.</p>
<p>Berdasarkan angka terbaru dari Kantor Daftar Penyakit Nasional (NRDO) Singapura, peristiwa kanker kolorektal di Singapura meningkat tajam setelah usia 50 tahun &#8211; 5103 pria dan 4221 wanita didiagnosis menderita kanker kolorektal antara 2010 dan 2014. Dalam laporan yang sama juga ditemukan bahwa lebih dari 3 sampai 4 pasien didiagnosis kanker kolorektal tanpa memandang jenis kelamin, dan berusia di atas 55 tahun.</p>
<h3>Faktor risiko</h3>
<p>Banyak faktor risiko yang terlibat dalam perkembangan kanker kolorektal, termasuk faktor yang dapat diubah dan tidak dapat diubah.</p>
<p>Faktor yang dapat diubah meliputi faktor gaya hidup dan perilaku seperti obesitas, kurang aktivitas fisik dan merokok, yang semuanya berpotensi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker jika tidak dikendalikan.</p>
<p>Faktor lain yang tidak dapat diubah meliputi faktor genetik atau keturunan, seperti memiliki anggota keluarga yang menderita polip kolorektal dan kanker kolorektal. Jika demikian, orang tersebut mungkin tidak pernah sepenuhnya bebas dari risiko.</p>
<p>Jadi pemeriksaan harus tetap dilakukan untuk memastikan bahwa beliau tidak menderita polip atau kanker, dan sebaiknya dilakukan ketika pasien sehat dan tidak menunjukkan gejala apa pun.</p>
<h3>Gejala dan tanda</h3>
<p>Pada tahap awal ketika kankernya kecil, seringkali tidak muncul gejala.<br />
Terkadang pasien mengalami tanda-tanda seperti perdarahan rektum, yang menyerupai kondisi jinak yang lebih umum seperti wasir. Namun, pada saat gejala muncul, kanker seringkali lebih besar dan kemungkinan sudah stadium lanjut atau telah menyebar ke organ lain. Gejalanya mungkin meliputi tanda-tanda kekurangan darah yang terus-menerus seperti pucat, lesu, atau merasa terengah-engah meskipun hanya menggunakan sedikit tenaga (misalnya berjalan di tanah yang datar). Gejala-gejala menyeramkan lainnya meliputi penurunan berat badan atau nafsu makan, nyeri perut, benjolan, atau kembung. Pasien juga mungkin mengalami perubahan kebiasaan buang air besar, seperti mengalami diare dan konstipasi atau penurunan mutu tinja (kecil atau setipis pensil).</p>
<p>Karena gejala sering muncul terlambat atau menyerupai kondisi jinak yang lebih umum seperti wasir, sebagian besar kanker kolorektal terdiagnosis saat stadium lanjut, setelah menyebar di luar usus besar atau anus. Tetapi, hal ini dapat mudah dihindari jika pasien menjalani pemeriksaan ketika mereka merasa baik-baik saja.</p>
<h3>Bedah laparoskopi</h3>
<p>Perawatan kanker kolorektal yang paling umum dan efektif adalah pembedahan (operasi) untuk menghilangkan bagian usus yang terkena dampak pertumbuhan kanker. Jika kanker terdeteksi pada tahap awal, hasilnya bisa sangat baik. Perawatan lain termasuk kemoterapi dan radioterapi, tetapi perawatan ini biasanya diberikan untuk kanker stadium lanjut yang telah menyebar di luar usus besar dan anus.</p>
<p>Di Mark Wong Surgery, metode bedah laparoskopi lebih disukai dan telah menjadi standar untuk operasi kanker kolorektal di negara-negara berkembang seperti Singapura. Dikenal sebagai bedah ‘lubang kunci’, teknik ini melibatkan penggunaan teknologi canggih (termasuk citra 3D dan optik definisi tinggi) untuk melakukan bedah melalui sayatan kecil di perut.</p>
<p>Dibandingkan dengan operasi ‘bedah’ konvensional yang memerlukan sayatan lebih besar, sayatan yang lebih kecil pada bedah laparoskopi berarti bahwa bekas luka akan lebih kecil dan rasa sakit yang dirasakan pasien akan lebih ringan. Organ internal juga lebih sedikit terpapar oleh lingkungan ruang bedah yang dingin, mengurangi kemungkinan infeksi, dan pasien dapat lebih cepat pulih untuk bisa makan setelah bedah. Dengan semua keunggulan ini, pasien dapat lebih cepat pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitas normal.</p>
<h3>Operasi Robotik</h3>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-804" src="https://markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/robotic-surgery.jpg" alt="" width="1000" height="667" srcset="https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/robotic-surgery.jpg 1000w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/robotic-surgery-300x200.jpg 300w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/robotic-surgery-768x512.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Di Mark Wong Surgery, dokter spesialis kami juga terlatih dengan bedah kolorektal Robotik, salah satu kemajuan dalam operasi laparoskopi. Metode ini menggunakan konsol robotik yang digunakan dokter bedah untuk mengontrol mesin robotik yang melakukan pembedahan melalui sayatan kecil di perut.</p>
<p>Bedah robotik adalah metode bedah lubang kunci yang jauh lebih presisi dari bedah laparoskopi, karena robot memiliki derajat gerakan yang lebih lebar dalam menggunakan instrumen bedah, mirip seperti pergelangan tangan manusia. Robot juga lebih stabil, memberikan citra 3D strereoskopik dan pembesaran gambar yang lebih baik, sehingga pembedahan dan penjahitan menjadi lebih presisi.</p>
<p>Fitur semacam ini sangat berguna saat melakukan pembedahan di area tertutup yang sempit seperti dasar panggul, di mana organ-organ seperti rektum berada. Studi menunjukkan hasil yang lebih baik dalam hal fungsi seksual dan kontinensi setelah bedah robotik dibandingkan dengan bedah laparoskopi. Bedah robotik sering direkomendasikan untuk kanker yang melibatkan bagian bawah usus besar, rektum, dan anus. Metode bedah ini terbukti sama amannya dengan bedah laparoskopi konvensional dengan tambahan kelebihan di atas.</p>
<h3>Pencegahan &amp; Pemeriksaan</h3>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-809" src="https://markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Prevalence-of-Colorectal-Cancer-e1570787241967-1.jpg" alt="" width="1000" height="592" srcset="https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Prevalence-of-Colorectal-Cancer-e1570787241967-1.jpg 1000w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Prevalence-of-Colorectal-Cancer-e1570787241967-1-300x178.jpg 300w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Prevalence-of-Colorectal-Cancer-e1570787241967-1-768x455.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kanker kolorektal dapat dicegah; karena mulai tumbuh sebagai polip dan butuh bertahun-tahun hingga menjadi kanker, kita dapat membuang polip untuk mencegahnya menjadi kanker. Di stadium awal, kanker ini bahkan berpotensi dapat disembuhkan. Sayangnya, kami masih saja mendiagnosis kanker kolorektal pada stadium lanjut akibat ketidakpedulian masyarakat dan ketakutan mereka untuk pemeriksaan.</p>
<p>Berdasarkan data NRDO yang disebutkan sebelumnya dengan insiden kanker kolorektal yang meningkat tajam setelah usia 50 tahun, dan disarankan bagi orang dewasa untuk menjalani pemeriksaan kanker kolorektal setelah mencapai usia 50 tahun. Faktanya, dengan banyaknya pasien yang terdiagnosis di bawah usia 50 tahun, AS menyarankan agar menurunkan rekomendasi usia untuk pemeriksaan menjadi 45 tahun. Secara umum, seseorang perlu melakukan pemeriksaan 10 tahun lebih dini dari usia anggota keluarga dengan kasus kanker kolorektal (CRC) pertama atau saat Anda berusia 50 tahun, mana saja yang lebih dulu. Sebagai contoh, jika Anda memiliki anggota keluar dengan CRC pada usia 50 tahun, Anda harus mulai pemeriksaan pada usia 40 tahun. Hal ini dikarenakan semua CRC diawali dari polip yang dapat memakan waktu beberapa tahun untuk menjadi kanker. Dengan begitu, pemeriksaan polip dan deteksi polip yang dapat dibuang dapat berpotensi mencegahnya tumbuh menjadi kanker kolorektal.</p>
<p>Pemeriksaan untuk kanker kolorektal dapat dimulai dengan kit FIT (Faecal immunohistochemistry test) yang mendeteksi darah yang tersembunyi (atau tak terlihat) di dalam kotoran yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Kit FIT gratis untuk semua warga negara Singapura dan penduduk tetap yang berusia di atas 50 tahun. Mereka dapat memperolehnya dari poliklinik dan farmasi, dan menggunakannya di rumah. Jika hasilnya positif mengandung darah pasien harus menjalani kolonoskopi. Namun, dengan adanya perdarahan nyata atau jelas pada orang berusia di atas 50 tahun tanpa pernah melakukan kolonoskopi, FIT tidak diperlukan dan kolonoskopi harus dilakukan sebagai gantinya.</p>
<p><a href="https://markwongsurgery.com/id/our-services/endoscopy/colonoscopy/">Kolonoskopi</a> dianggap sebagai ‘Standar Tertinggi’ untuk mendeteksi kanker kolorektal. Di Mark Wong Surgery, dokter spesialis kami dilatih dalam prosedur ini, yang merupakan metode aman dan akurat untuk mendeteksi polip kolorektal atau kanker. Preparasi usus dilakukan untuk membersihkan usus besar dari kotoran sebelum prosedur. Pengamatan dilakukan sebagai prosedur satu hari di bawah pengaruh obat penenang dengan rasa sakit minimal. Lebih lanjut, metode ini memudahkan dokter melakukan biopsi untuk membuang dan/atau memastikan sifat dari luka yang terlihat selama pengamatan. Dengan menggunakan teknologi serat optik definisi tinggi, sebuah selang fleksibel dimasukkan ke dalam anus yang memudahkan dokter untuk melihat bagian dinding dalam usus besar dan rektum secara detail, sehingga setiap polip atau kanker dapat diidentifikasi, dilakukan biopsi, atau dibuang.</p>
<p>Alternatif lainnya adalah CT scan untuk usus besar dan rektum (CT kolonografi), tapi tindakan ini tidak memungkinkan pembuangan atau biopsi dari temuan yang mencurigakan, sehingga kolonoskopi masih tetap harus dilakukan.</p>
<p>Tonton lebih banyak video Dr Mark Wong dan dapatkan wawasan di <a href="https://www.markwongsurgery.com/id/media/videos/">https://www.markwongsurgery.com/id/media/videos/</a></p>
]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Polip Kolorektal</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/service/polyps/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:43:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/polyps/</guid>
				<description><![CDATA[]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<div class="fl-builder-content fl-builder-content-1580 fl-builder-content-primary fl-builder-global-templates-locked" data-post-id="1580"></div>]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Sembelit</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/service/diverticular-disease/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/diverticular-disease/</guid>
				<description><![CDATA[]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<div class="fl-builder-content fl-builder-content-1585 fl-builder-content-primary fl-builder-global-templates-locked" data-post-id="1585"></div>]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Prolaps dubur</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/service/rectal-prolapse/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/rectal-prolapse/</guid>
				<description><![CDATA[Rectal Prolapse: Causes, Symptoms, and Treatment What it is? The last 12 to 15 centimeters of the large intestine or colon is known as the rectum. Located above the anus, the rectum temporarily stores stool. In a normal situation, the rectum is held in place in the pelvis (lower part of the abdomen) by ligaments [&#8230;]]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<h3>Rectal Prolapse: Causes, Symptoms, and Treatment</h3>
<h3>What it is?</h3>
<p>The last 12 to 15 centimeters of the large intestine or colon is known as the rectum. Located above the anus, the rectum temporarily stores stool. In a normal situation, the rectum is held in place in the pelvis (lower part of the abdomen) by ligaments and muscles, together with other organs like the bladder (stores urine) and the womb (in females). If these ligaments and muscles become weak for some reason, the rectum starts to move downwards and may even protrude out resulting in a prolapse.</p>
<p>In the initial stage of this condition, the rectum stays inside the body most of the time. But as the condition worsens, the ligaments and the muscles weaken further and a large portion of the rectum can slip out from the anus and if not treated, there could be a permanent protrusion.</p>
<h3>Different types of rectal prolapse</h3>
<p>Depending upon its severity, rectal prolapse is graded into the following three types:</p>
<ul>
<li>Internal prolapse: In such cases, the rectum does not slip out through the anus and remains within the pelvis or anus.</li>
<li>External prolapse: The rectum protrudes out through the anus.</li>
</ul>
<h3>The causes and risk factors</h3>
<p>Rectal prolapse occurs due to weak ligaments and muscles that cannot hold the rectum in place. While the exact cause of the weakening of the muscles and ligaments is not known, a large number of factors can contribute to this condition due to the repeated strain on the pelvic floor and supporting structures of the rectum. The following are some of them.</p>
<ul>
<li>Age, especially when above 40 years old</li>
<li>Injury from childbirth</li>
<li>Women having multiple pregnancies</li>
<li>Previous pelvic surgery</li>
<li>Chronic cough (eg. chronic obstructive lung disease)</li>
<li>Chronic constipation</li>
<li>Prolonged diarrhea</li>
</ul>
<p>Other than these, cystic fibrosis, multiple sclerosis, spinal cord injury may also result in rectal prolapse. Women are found to be more prone to this than men.</p>
<h3>What are the signs and symptoms?</h3>
<p>The signs and symptoms of rectal prolapse may be similar to that of the hemorrhoids, including a painful bowel movement, discharge of mucus or blood and a sensation of a lump protruding out of the anus. But unlike haemorrhoids, one may also experience improper control of stools (incontinence), need to strain at stools with little output (obstructed defecation). If the prolapse is serious, it may also affect other organs like the bladder and womb (in women).</p>
<h3>Diagnosis &amp; treatment of rectal prolapse</h3>
<p>The diagnosis of rectal prolapse is by examination. However, in cases where the prolapse is not obvious, one may need a colorectal specialist and specialized X-rays to diagnose this condition. Treatment of the condition depends on the severity of the condition when diagnosed.</p>
<p>Lifestyle changes may be needed to ensure regular bowel movements with dietary modifications, laxatives and doing pelvic floor exercises. If this does not improve or the condition is serious, surgery may be required.</p>
<p>A colorectal surgeon usually performs the surgery. Using modern key-hole (laparoscopic or robotic) surgery, the rectum is secured to the surrounding muscles and ligaments together with a mesh to provide strength for support. The surgeon will advise on the most appropriate surgical option depending on the overall age and health of the patient.</p>
]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Konstipasi</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/our-services/colorectal-surgery/constipation/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/constipation/</guid>
				<description><![CDATA[Sebuah Gejala, Bukan Penyakit Konstipasi adalah gejala, bukan penyakit penting untuk memastikan penyebab konstipasi guna mengobatinya dengan efektif. Dan penting juga untuk memahami bahwa setiap orang memiliki interval buang air besar yang berbeda dan interval buang air besar yang dianggap sehat adalah tiga kali sehari sampai sekali tiap tiga hari. Selama tidak ada pembesaran abdomen [&#8230;]]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<h3>Sebuah Gejala, Bukan Penyakit</h3>
<p>Konstipasi adalah gejala, bukan penyakit penting untuk memastikan penyebab konstipasi guna mengobatinya dengan efektif.</p>
<p>Dan penting juga untuk memahami bahwa setiap orang memiliki interval buang air besar yang berbeda dan interval buang air besar yang dianggap sehat adalah tiga kali sehari sampai sekali tiap tiga hari. Selama tidak ada pembesaran abdomen dan nyeri dan tidak ada rasa mulas, maka itu belum waktunya buang air besar.</p>
<p>Namun, jika seseorang tidak buang air besar selama lebih dari seminggu, maka perlu dilakukan investigasi. Terutama jika pasien berusia di atas 50 tahun, yang mana di usia ini perlu lebih waspada terhadap tanda-tanda kanker kolorektal.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-806" src="https://markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Constipation.jpg" alt="" width="1000" height="667" srcset="https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Constipation.jpg 1000w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Constipation-300x200.jpg 300w, https://www.markwongsurgery.com/wp-content/uploads/2019/09/Constipation-768x512.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<h3>Siapa yang Paling Menderita</h3>
<p>Secara umum, konstipasi lebih banyak terjadi pada usia lanjut. Sebagian besar penyakit berkaitan dengan konstipasi di usia senja, serta kurangnya nutrisi dan kurang banyak bergerak di masa tua juga merupakan faktor-faktornya.</p>
<h3>Penyebab dan Masalah</h3>
<p>Untuk mengidentifikasi penyebab dari konstipasi, spesialis kami akan mengesampingkan dahulu kemungkinan kondisi-kondisi yang mengancam hidup seperti kanker kolorektal. Selain itu, tanda-tanda kanker kolorektal mencakup adanya darah atau lendir selama buang air besar, nyeri abdomen, tonjolan di abdomen, dan penurunan berat badan dan nafsu makan.</p>
<p>Kemungkinan penyebab lainnya dari konstipasi mencakup kondisi metabolisme dan hormon seperti kelainan tiroid dan tingginya kadar kalsium yang berkaitan dengan penyakit ginjal kronis. Obat-obatan juga dapat menyebabkan konstipasi, termasuk pereda nyeri, antidepresan, obat pengatur tekanan darah, suplemen zat besi, suplemen kalsium, dan antasida yang mengandung aluminium, semuanya dapat menyebabkan atau memperparah konstipasi.</p>
<p>Setelah penyebab organik ini tidak ditemukan, faktor penyebab fungsional akan dipertimbangkan. Faktor ini berkaitan dengan gangguan pada ‘mekanisme’ pergerakan usus untuk buang air besar, dan mencakup berkurangnya motilitas usus (pergerakan tinja lambat), inkoordinasi otot pada anus dan rektum, dan prolaps rektum.</p>
<h3>Serat… Semua yang Terlalu Banyak itu Tidak Baik</h3>
<p>Sudah diketahui luas bahwa diet kaya serat sangat penting untuk kesehatan dan fungsi usus yang baik. Contohnya adalah buah-buahan, sayuran, dedak, oat, dan roti gandum utuh.</p>
<p>Di Mark Wong Surgery, spesialis kami telah menemui banyak penderita konstipasi, yang dimulai saat menjabat sebagai Direktur Layanan Dasar Panggul di rumah sakit besar yang direstrukturisasi. Dalam pengalamannya, Dr Wong menyebutkan adanya pertumbuhan ‘epidemik’ lokal untuk konstipasi yang disebabkan oleh konsumsi serat diet secara berlebihan.</p>
<p>Serat diet dapat larut atau tidak larut. Jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat menyebabkan konstipasi yang biasanya membuat tinja berbentuk seperti pelet (disebabkan serat yang tidak larut), serta pembesaran berlebihan dan perut kembung (disebabkan serat larut). Sebaliknya, kurang mengkonsumsi serat juga dapat menyebabkan konstipasi. Kuncinya adalah setiap individu harus mengkonsumsi serat dalam jumlah yang tepat bagi tubuhnya. Tidak ada formula atau pola makan yang umum untuk diterapkan semua orang dan harus disesuaikan kepada masing-masing individu.</p>
<h3>Bagaimana Kami Mengobatinya</h3>
<p>Saat mengalami konstipasi, perubahan gaya hidup sering kali dapat menyembuhkan kondisi tersebut. Terkadang, meningkatkan rutinitas olahraga, lebih banyak minum air putih atau makan lebih banyak atau lebih sedikit makanan kaya serat bisa menjadi solusinya. Probiotik dan prebiotik juga sangat membantu untuk mendukung kesehatan usus dan melancarkan buang air besar.</p>
<p>Jika langkah-langkah tersebut gagal, obat-obatan seperti laksatif dapat digunakan untuk pereda jangka pendek sembari mengatasi ketidaksesuaian pola makan. Namun, penggunaan laksatif jangka panjang tidaklah sehat, dan spesialis kami meyakini bahwa sebagian besar pasien dapat berhenti mengkonsumsi obat-obatan mereka dengan menyesuaikan gaya hidup, melakukan kombinasi olahraga rutin dan meningkatkan asupan makanan sehat.</p>
<p>Untuk orang-orang yang berusia di atas 45 tahun dengan faktor risiko kanker kolorektal, kolonoskopi juga perlu dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit mematikan tersebut.</p>
<p><a href="https://markwongsurgery.com/id/our-services/endoscopy/colonoscopy/">Baca tentang kolonoskopi</a></p>
]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Irritable bowel syndrome (IBS)</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/our-services/colorectal-surgery/irritable-bowel-syndrome-ibs/</link>
				<pubDate>Thu, 05 Dec 2019 12:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/?post_type=service&#038;p=1861</guid>
				<description><![CDATA[IBS is a common condition that occurs when the intestines go into a spasm. It is known to affect 1 in 5 people worldwide. This ailment is not fatal but can affect one’s quality of life. Symptoms of IBS are non-specific and can also be found in many other intestinal disorders. It is therefore a [&#8230;]]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p>IBS is a common condition that occurs when the intestines go into a spasm. It is known to affect 1 in 5 people worldwide. This ailment is not fatal but can affect one’s quality of life. Symptoms of IBS are non-specific and can also be found in many other intestinal disorders.</p>
<p>It is therefore a <u>diagnosis of exclusion</u>, ie. until the more life-threatening conditions like cancer or inflammatory bowel disease are excluded, one should not be diagnosed as simply having IBS.</p>
<p>Common symptoms of IBS include:</p>
<ul>
<li>Abdominal cramps usually in the lower tummy or on the left side. The pain can be sharp, stabbing or gripping. The pain eases after a bowel movement or after passing gas.</li>
<li>An urgent feeling to open the bowels</li>
<li>Irregular bowel habit which quickly changes from constipation to diarrhea. Stool frequency also increases, although patients may not become dehydrated, as is the case with diarrhoea in gastroenteritis.</li>
<li>There are also deviations in the motions. The stool changes from small to hard pellets to lose.</li>
<li>Abdominal bloating</li>
<li>Excessive flatus</li>
</ul>
<p>There are also some other less common symptoms such as:</p>
<ul>
<li>Backache</li>
<li>Fatigue</li>
<li>Headaches accompanied by flushing, sweating and fainting</li>
<li>Agitation</li>
<li>Pain when passing stool</li>
</ul>
<p>It is treated with dietary modifications (by eliminating triggers), medications aimed at reducing symptoms (eg. cramps and bloating), as well as starting a regular exercise regimen to reduce stress.</p>
]]></content:encoded>
										</item>
		<item>
		<title>Penyakit Radang Usus (IBD)</title>
		<link>https://www.markwongsurgery.com/id/our-services/colorectal-surgery/inflammatory-bowel-disease/</link>
				<pubDate>Tue, 24 Sep 2019 12:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[ripplewerkz]]></dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">https://markwongsurgery.com/service/inflammatory-bowel-disease/</guid>
				<description><![CDATA[These are conditions that result in the inflammation of the digestive tract, such as Crohn&#8217;s disease, indeterminate colitis, and ulcerative colitis. Although these conditions are rarely curable and tend to recur, they can be controlled with medication and lifestyle modifications. Patients with IBD have varying symptoms, although the most obvious signs are diarrhoea, weight loss, [&#8230;]]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[<p>These are conditions that result in the inflammation of the digestive tract, such as Crohn&#8217;s disease, indeterminate colitis, and ulcerative colitis. Although these conditions are rarely curable and tend to recur, they can be controlled with medication and lifestyle modifications.</p>
<p>Patients with IBD have varying symptoms, although the most obvious signs are diarrhoea, weight loss, blood in the stool, abdominal pain, and mouth ulcers. Some people may simply present with fistula in the anus and other parts of the digestive tract (eg. Crohn’s disease).</p>
<h4>Causes of IBD</h4>
<p>It is difficult to point to a particular cause of IBD in a patient. It is believed to be genetic and environmental. There is often a family history of the disease.</p>
<p>There is, however, a strong link with the diet and lifestyle (eg. smoking) in most patients. IBD is associated with specific bacteria in the gut, which in turn is influenced by one’s diet. Some people develop IBD because of their body&#8217;s overreaction to the immune system.</p>
<h4>Diagnosis of IBD</h4>
<p>IBD often presents with a constellation of symptoms and signs, that are common to other conditions of the digestive tract. Since treatment is often lifelong, an accurate diagnosis must be made prior to commencing the necessary treatment.</p>
<p>Some of the tests conducted include:</p>
<p><b>Blood tests: </b>Full blood count, C-reactive protein, iron levels, erythrocyte sedimentation rate (ESR), renal panel, and liver panel.</p>
<p><b>Stool tests: </b>Stool culture, stool calprotectin, Clostridium difficile PCR, and microscopy.</p>
<p><b>Imaging: </b>Abdominal x-ray, chest x-ray, small bowel enteroclysis, small bowel capsule endoscopy, abdominal/pelvic CT scans, and CT/MRI enterogram.</p>
<p><b>Endoscopy </b>to get tissues for a biopsy. The processes used include colonoscopy, Oesophagogastroduodenoscopy (OGD), and small bowel enteroscopy.</p>
<h5>Treatment Options for IBD</h5>
<p>IBD flares from time to time. Patients with IBD require medication to control the disease and bring it into remission. This will help to prevent complications, minimize discomfort and help optimize their quality of life. Some of the treatment options include;</p>
<ul>
<li>Use of steroids which can be given intravenously, topically or orally</li>
<li>Immune suppressants</li>
<li>Antibiotics</li>
<li>Special diets</li>
<li>Surgery for complications (eg. fistula, abscess, blockage)</li>
</ul>
<p>The treatment will be highly dependent on the severity of the IBD and the response to any given medication.</p>
]]></content:encoded>
										</item>
	</channel>
</rss>
